Meskipun usahanya mulai berjalan, namun dia mengalami kendala saat datangnya musim dingin.
Usaha es krim dan minumannya mengalami penurunan omzet dibandingkan dengan musim panas.
Masalah tersebut membuat Hongchao harus berbesar hati menutup toko pertamanya itu.
Setahun kemudian, Hongchao kembali membuka toko es miliknya.
Toko tersebut bernama Mixue Bingcheng, yang berarti "Kastil es yang dibangun dengan salju yang manis".
Mulanya, bisnis ini sempat gagal lantaran harga es krim yang naik hingga 10 kali lipat pada 2006.
Seolah tak patah semangat, Hongchao memutar otak mempelajari resep es krim di restorannya itu.
Lalu dia membuat perhitungan biaya dan menetapkan harga es krim sebesar 2 yuan atau sekitar Rp4.000.
Harga itu jauh lebih murah dibandingkan dengan toko lain, yang saat itu menjual 10 yuan atau Rp10.000.
Hal tersebut membuat bisnis Hongchao mampu menjangkau berbagai kalangan, baik menengah ke bawah hingga ke atas.
Baca Juga: Es Krim Haagen Dazs Ditarik dari Peredaran, Ini 5 Varian Rasa Terbaik
Tak heran, tokonya diserbu oleh antrean konsumen yang amat panjang.